Semangat Menyalip Lalu Menyesal

pasang iklanSore tadi, gue menempuh perjalanan 65 km, menghabiskan 1 jam 15 menit untuk sampe ke tujuan. Sore tadi gue bersama keluarga gue, nyokap, adik gue dan nenek gue berangkat ke kota Makassar. Cerita seru gue bukan tentang keberangkatan gue ke kota Makassar bersama keluarga. Tapi tentang perjalanan gue di tengah kemacetan.

Gue baru saja melewati deretan penjual buah dan roti di kabupaten Maros. Seperti biasa jalan di daerah ini pasti macet di sore hari dan panjangnya sampe di pintu gerbang masuk kota Makassar. Kira-kira 8 km. Persisnya silahkan diukur sendiri di TKP.

Sebuah mobil Avansa model lama ada di belakang mobil Avansa model baru nyokap gue yang kali ini aku jadi jokinya. Dengan perlahan aku menekan gas dan memainkan kopling dan personelan di tengah padatnya kendaraan yang bermacet ria. Sesekali aku harus nge-rem mendadak. Di spion dalam aku memantau terus kendaraan di belakan gue, secara gue takut banget di tabrak dari belakang. Gue juga sih takut di tabrak dari depan. Hehehe. Tapi kalo menabrak gue nggak takut. Cuma takut kalo yang gue tabrak harus merenggut nyawa karena gue, dan pak polisi harus sibuk karena gue, apalagi jaksa harus pusing untuk mempidanakan gue.

Kembak ke mobil Avanza di belakang gue, gue melihat sopirnya nampak kegelisahan dengan kondisi ini. Dia pun mulai mencari celah untuk bisa menyalip gue. Niatnya biar gak kelamaan bermacet-macet ria. Kebetulan jalur kali ini jalur satu arah dengan dua ruas jalan. Akhirnya ruas di sebelah kiri gue baru saja kemacetan didepannya teratasi. Mobil di ruas kiri gue kini mulai lancar perjalanannya. Akhirnya mobil Avanza di belakang gue makin semangat mencari celah tuk pindah ruas ke sebelah kiri dan menyalip gue. Akhirnya ia pun mendapat kesempatan emas itu. Kini dia berdampingan dengan aku. Dengan sedikit senyum dan wajah belagunya, sopir mobil itu menyalip dan meninggalkan gue di ruas jalan yang gue masih bertahan dengan kemacetannya.

Gue teringat dengan kelakuan gue yang persis dengan dia saat gue terjebak macet bulan lalu sebelum gue sakit cacar. Yang gue dapat hanya kebahagiaan sesaat dan penyesalan berkepanjangan. Setelah berpindah gue justru mendapat macet yang lebih parah.

Setelah teringat hal itu, gue kembali bersabar, Gue gak mau mengulang kesalahan yang sama. Yang benar aja, baru saja gue melihat deretan mobil di ruas kiri gue terhenti. Dan kini jalur gue lancar bagai mengendarai di jalan tol. Aha… Kini sang penyalip, gue tinggalkan dalam kemacetan. Wajahnya kembali murung dengan penuh penyesalan seperti yang aku rasakan kala itu. Jalur ruas kiri kini kembali macet total. Dan jalur gue, ruas kanan lancar selancar-lancarnya. Mobil berjalan mulus dengan beriringan. Seakan tak memberi kesempatan ruas kiri tuk berpindah dan kembali ke ruas kanan. Perjalanan gue kini semakin jauh dan jau hingga tak terasa memasuki gerbang kota Makassar.

Kini aku hanya bisa berucap; Selamat tinggal kemacetan, selamat menyesal sang penyalip dalam kemacetan. Beruntunglah bagi mereka yang bersabar dan semangat dalam kemacetan.

So, nikmati apa yang ada. Semua akan berujung indah jika dijalani dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.

(Arsam)

*****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s